Getaran tanpa Resonansi
Aku lupa, bagaimana bisa aku dan kamu berbicara dari hati ke hati yang telah kamu tutup sebelum aku mengetuk ? Suatu hari, aku diberi kesempatan mengetuk, perlahan-lahan sampai ku ketuk dengan keras agar getarannya sampai padamu. Tapi, kamu tak pernah mendengar dan beranjak sedikitpun untuk membuka. Terlalu rapat kamu kunci sampai kini aku tak sanggup mengetuk lagi. Aku terlalu egois pada pemahaman bahwa setiap getaran yang dibuat akan selalu beresonansi meski sedikit saja. Selalu saja, aku yang menghasilkan getaran namun tak pernah beresonansi. Aku berhenti. Ku sadari tak selamanya resonansi selalu menguntungkan. Ada resonansi yang bisa membuat suatu kehancuran besar, seperti ledakan bom yang getarannya menghancurkan gedung-gedung. Sama halnya seperti aku dan kamu. Aku yang terlalu ketakutan adanya resonansi membuat kita hancur. Hingga pada akhirnya. Aku benar-benar berhenti. Terdiam.